Total Pageviews

Tuesday, 24 March 2015

cerita dari kota kembang



Bandung punya cerita 19-22 maret 2015
Cerita perjalanan ku yang berbeda dari biasanya...
Tidak seperti biasanya perjalananku kali ini hanya berdua dengan sahabat yang sudah seperti saudara sarah namanya. Entah berapa kali aku mengunjungi  kota bandung tetapi menurutku perjalanan kali ini yang membuat aku lebih banyak belajar  dari keluarga nisa. Nisa adalah adik kelasku ketika  sekolah dibogor, ia seorang anak yang  kalem, pendiem dan cerdas.  Namun ketika tamat dari SMP ia tidak melanjutkan study disana dan memilih untuk sekolah dibandung. Lama tidak berjumpa  setelah sekian tahun tidak pernah mendengar kabarnya, tiba-tiba sahabatku mengajak untuk mengunjunginya dibandung. Sarah memang lebih dekat mengenal nisa dari pada aku yang pernah tinggal sekamar dengannya waktu diasrama dulu, walaupun demikian aku senang ia masih mengenalku dengan baik. Perjalanan pun dimulai..
Kamis 18 maret 2015
Entah angin dari ,mana tiba-tiba sarah menghubungiku dan berencana mengajakku untuk pergi ke bandung. Saat itu belum memutuskan karena aku benar-benar tidak memiliki uang untuk bepergian jauh, tetapi sarah menjamin semua itu dan akhirnya akupun menyetujuinya hehe,,, tapi tidak gratisan juga aku sudah menyiapkan uang dari tabunganku walaupun hanya bisa menambahkan untuk uang bensin atau sekedar untuk membeli air diperjalanan.
Jum’at 19 maret 2015
Jam 10.15 aku berangkat dari rumah menuju tangerang yaitu tempat tinggal sarah, walaupun sedikit macet dan salah jalan aku sampai ditangerang jam 1 siang. Telepon, bbm sudah berdering dan entah berapa kali missed call yang masuk. Mungkin sarah khawatir karena aku belum sampai dirumahnya karena biasanya hanya memakan waktu 2 jam dari rumah sedangkan ini lebih dari dua jam.  Ssetelah aku sampai tak beberapa lama kami pun pergi menuju bandung.
Jam 1.30 Perjalanan pun dimulai melalui rute gunung sindur-puncak-cianjur-bandung. Kami mengendarai sepeda motor milik sarah karena lebih irit, ya maklum lah motor keluaran sekarang injeksi semua hehe..
Mungkin ada yang melarang ketika  kami pergi memakai motor kesana, disampng jarak yang jauh, kami berdua seorang wanita yang pergi tanpa rombongan, bener-bener berdua saja. Kami percayakan keselamatan pada tuhan yang memiliki kekuasaan atas dunia ini dan dengan bismillah kami pun pergi. Perjalanan ini menenangkan karena kelengkapan surat kendaraan lengkap mulai dari SIM C dan STNK pun ada jadi kami tidak khawatir dijalan ketika polisi menghampiri. Benar saja ketika menuju puncak kami diberhentikan polisi karena disana memang sedang ada operasi jadi bagi kendaraan yang tidak lengkap surat kendaraannya mereka langsung menghindarinya. Untung saja polisinya baik dan tidak menyeramkan polisi itu hanya menanyakan kelengkapan saja tanpa melihat SIM dan STNK jadi kami bisa melewatinya deh.     
Saat itu keadaan puncak tidak begitu padat dan macet karena orang-orang yang ingin berlibur kesana masih dalam perjalanan jadi bisa bebas macet.
Setelah sekian lama berada diatas kendaraan kami memutuskan untuk istirahat sejenak di mesjid At-Ta’awun sambil menunaikan ibadah solat ashar.
numpang foto di masjid at-ta'awwun puncak bogor

Setelah selesai kami melanjutkan perjalanan.
Cianjur dan puncak sudah dilalui dan kini sudah didaerah bandung, kendaraan kami melaju dengan cepat karena waktu sudah malam dan kami pun berjalan tak tahu arah karena nisa hanya memberikan alamat yang tidak begitu jelas. Waktu sudah menunjukkan pulul 21.00 wib. Kami belum sampai tujuan, kami terus bertanya sepanjang jalan karena hp yang kami miliki tidak mendapatkan sinyal untuk mencari lokasi. Tak lama kami pun menghentikan perjalanan hanya sekedar melihat handphone untuk melacak lokasi dan sinyal disana lumayan kuat jadi kami melacaknya sambil memacu kendaraan kami dengan cepat. Jam 22.00 wib akhirnya kami pun sampai dilokasi dengan sangat bersyukur kami akhirnya sampai dengan selamat. Nisa pun kaget ketika melihat kami datang malam-malam dengan sepeda motor karena ia tidak mengetahui kalau kami menggunakan kendaraan pribadi. Kami pun istirahat dan bernostalgia dengan nisa sampai kami terlelap.
Sabtu 20 maret 2015

Pagi di bukit ligar bandung,,,
Setelah menempuh perjalanan yang sangat panjang kami bangun pagi walaupun matahari sudah menyinari alam bandung. Kegiatan dipagi hari hanya berada dikamar dan bercerita ini dan itu, kemudian nisa mengajak kami untuk jalan-jalan mengunjungi tempat wisata yang ada. Floating market tempat yang pertama kali aku dan sarah kunjungi. Tempatnya ada dilembang dan selama perjalanan menuju floating market  pemandangannya sungguh indah dan sayang sekali bila dilewatkan, walaupun keadaannya hujan tetapi kami tetap berangkat kesana. Jalan yang naik turun dan berkelok membuat kami lebih berhati hati dalam memacu kendaraan terlebih lagi sebelum kami berangkat kendaraan yang kami naiki mengalami bocor entah karena apa tapi menurut tukang tambalnya karena kurang angin dan berada diudara yang dingin dan terpaksa sebelum pergi kami kebengkel yang berada tidak jauh dari rumah nisa.
 perjalanan menuju floating market

view selama perjalanan 

Sesampainya difloating market kami tiba disambut hujan yang cukup deras dan keadaan macet panjang karena para wisatawan mulai mendatangi tempat itu, mungkin jika memakai mobil kami belum tentu dapat cepat sampai dilokasi. Kami pun membeli tiket dan memasuki lokasi, keadaan didalam sudah begitu ramai dan disana ada bermacam-macam taman ada taman khusus kelinci, taman khusus anak-anak dsb. Namun jika ingin masuk kesana kita harus membayar lagi. Jadi kami hanya mengelilingi  sekitar dan hunting jajanan bandung. Karena kami belum menunaikan solat dzuhur jadi kami putus kan untuk segera menunaikan ibadah setelah itu melanjutkan untuk berkeliling lagi.  Dan tibalah untuk mencari makanan kami pun segera menukarkan uang kami dengan koin guna membeli jajanan yang ada disana. Karena disana tidak menerima uang cash seperti berbelanja pada umumnya dan ini yang menjadi keunikan tersendiri yang ada di floating market selain tempat yang mengapung diatas air.     
seperti inilah gambaran koinnya

Taraaa.. makanan ini lah yang kita dapatkan. Ada lumpia, combro isi kacang ijo, cakwe dan kerak telor karena nisa katanya belum pernah makan kerak telor jadinya sarah hunting kerak telor. Tidak jauh berbeda dengan jajanan yang ada dipinggir jalan atau didepan kampus hanya rasanya yang berbeda  dan menurut aku sih lebih enak yang di pinggir jalan hanya tempatnya aja yang berbeda dan suasananya pun demikian` sebelum menghabiskan makanan kami tidak lupa untuk berfoto ria ya sekalian untuk kenang-kenangan ketika bersama-sama.
 makanan di floating market

 dari sebelah kiri anisa, gue dan sarah


Setelah itu kami melanjutkan untuk berkeliling sebentar untuk hunting foto dan sebelum pulang tak lupa juga kami menukarkan tiket masuk dengan kopi panas, minuman yang sangat pas untuk dinikmati dikala hujan seperti ini bersama-sama. Setelah 2 jam berada disana kami memutuskan untuk pulang dan sangat luar biasa jalannan menuju rumah sudah macet panjang kami pun mencari jalan alternatif yang dapat dilalui dengan cepat. Walaupun hujan yang semakin  deras tetap saja tidak mengurungkan niat para pengunjung untuk ke sana sehingga terjadi kemacetan di jalan alternatif yang kami lalui walaupun tidak separah jalan sebelumnya.
macet ke arah menuju tempat wisata

                     Malam hari di bandung...
Selepas magrib kami melanjutkan untuk mengunjungi gedung sate yang sangat terkenal dan menjadi icon kota bandung. Hunting foto dan berwisata kuliner, ini pertama kalinya aku dan sarah menginjakkan kaki di gedung sate. Walaupun aku sering ke bandung tetapi tidak pernah mengunjungi tempat bersejarah ini.pemandangan dimalam hari sangat bagus dan bersih . karena waktu itu malam minggu jadi banyak para pemuda yang sekedar hangout bersama teman ataupun bersama pasangan. Kami berjalan kesana kemari mencari lokasi yang bagus untuk berfoto.  Dan ini lah hasilnya   
malam semakin larut kami pun kembali kerumah untuk istirahat melepas lelah setelah seharian beraktivitas. Sesampainya dirumah kami lazy bed dan melihat foto yang ada dikamera. Sarah berniat untuk memindahkannya ke flashdisk namun tiba-tiba mati lampu sehingga membuat kami memilih untuk tidur dan melepas lelah. Mereka terlihat tidur sangat lelap terlebih lagi nisa yang sebelumnya selalu bergadang dan kali ini ia bener-benar lelap dan nyeyak sekali.

Minggu 22 maret 2015
Pukul 5.30 aku baru bangun dan langsung menunaikan solat subuh, setelah itu berbincang dan bermain bersama athar adiklaki-laki  nisa. Athar sangat lucu dan menggemaskan diusianya  yang masih kurang lebih belum sampai 2 tahun ia sudah pintar dan sudah bisa diajak untuk berkomunikasi. Wajahnya seperti orang jepang pada umumnya. Dan adik-adiknya demikian memiliki wajah seperti orang jepang asli. Kami bercanda dan tertawa ketika athar bermain dan mendengar kata-kata yang belum bisa dimengerti oleh kami dan hal itu yang sangat membuat aku gregetan pada athar Rasanya ingin ku bawa pulang saja anak ini. Karena hari ini adalah hari terakhir kami dibandung dan siang hari kami harus pulang jadi nisa mengajak kami untuk mengunjungi lapangan gazibu katanya  ada pasar pagi disana. Dan kami bersiap-siap untuk pergi kesana, tak lupa athar pun ikut bersama nisa dan salah seorang temannya. Sambil melihat-lihat apa saja yang ada disana dan mencari sarapan karena disana pun tak luput dari kuliner bandung yang sangat enak. Sarapan pagi ini adalah nasi merah dan untuk lauknnya kami bebas memilih. Kami pun menikmati makanan yang ada disana namun mungkin kondisiku yang sedang tidak baik sehingga untuk makan apa saja tidak berselera seperti nisa ataupun sarah.  Selesai sarapan kami berkeliling lagi untuk sekedar menghibur dan mengajak athar untuk bermain karena disana ada pula wahana untuk bermain anak.


 Ini kali pertama dan terakhir aku bertemu dengan nisa karena ia akan pergi ke negara impiannya jepang untuk menetap dan membina keluarga disana. Entah kapan  bisa bertemu  kembali, mungkin jika tuhan menghendaki kita akan bertemu kembali di negara ini atau dijepang nanti.  Yang jelas aku yakin suatu hari nanti bisa visit kesana dan bisa berjumpa kembali. Semoga perjumpaan ini bukan yang terakhir ya nisa. Selamat berjuang dinegeri sakura dan semoga rumah tanggamu dilimpahkan kebahagiaan amin. Sebelum pulang kami berpamitan pada nisa, athar, dan temannya. Terlihat kesedihan diraut wajah nisa ketika kami akan pergi karena aku pun merasakan kesedihan itu. Rasanya waktu itu cepat sekali bergulirnya. Seperti bermimpi berada di bandung. Nisa terlihat sangat sedih dan air matanya pun seakan mengalir terlebih lagi ketika berpamitan dengan sarah, memang tak terlihat namun wajahnya tidak bisa menutupi kesediha itu. Akhirnya kami pun berpisah disana dan pergi meninggalkan mereka.     

Perjalanan pulang...
Memang sangat terasa berbeda ketika akan pergi dan pulang  dari suatu perjalanan, ketika pergi terasa lama dan ketika pulang terasa cepat. Dalam ha perjalanan pun demikian, jalur yang kami tempuh tidak begitu sulit dan mungkin karena aku pernah melewatinya so sudah sedikit hafal rutenya dan terasa tidak terlalu jauh dari bayangan. Berpuluh puluh kilo meter kami lalui dan sampailah di puncak, kami beristirahat namun ketika ingin melanjutkan perjalanan hujan deras disertai kabut yang menutupi sebagian jalan. Kami memutuskan menunggu sebentar dan tak berapa lama kami melanjutkan perjalanan pulang.  Jam 22.00 wib kami sampai rumah dengan selamat. Dan aku pun memutuskan untuk bermalam dirumah sarah dan kembali pulang esok siang.
Perjalanan ini adalah perjalanan yang sangat berkesan dan banyak sekali pelajaran yang dapat aku pelajari. Kenapa? Karena ketika dirumah nisa aku tidak melihat adik-adiknya  menonton  tv dengan tayangan yang tidak mendidik serta cara keluarga nisa dalam mendidik anak sangat baik sehingga anak-anaknya tidak terpengaruh oleh dunia luar terutama tayangan media yang saat ini sudah tidak bisa dibilang edukatif. Disana televisi ada tetapi tidak memiliki saluran atau channel yang dapat dilihat kapan saja tetapi jika ingin menonton harus mendownload  terlebih dahulu. Keluarganya memang hanya menyediakan kuota internet saja, tetapi walaupun demikian anak-anaknya tetap dalam pengawasan ketika mereka menggunakan internet.  Sama halnya dengan tv radio pun hanya ada satu saluran saja yaitu elshinta, karena itu sebagai media informasi berita yang terjadi tanpa harus melihat secara visual. Aku sangat kagum dengan keluarga ini, benar-benar sangat menjaga perkembangan anak-anaknya tanpa harus mengikuti apa yanga ada di tv saat ini atau pun diradio. Dari tutur bahasa mereka sangat sopan dan santun. Jauh berbeda dengan anak-anak yang sering aku jumpai disini. Orang tua disini malah senang melihat anak-anaknya bernyayi lagu-lagu yang bukan untuk usia mereka, bahkan mereka bangga jika anaknya dapat menirukan para artis yang ada di televisi. Hal ini lah yang membuatku sangat luar biasa, dizaman modern seperti ini masih ada orang tua yang perduli dan mampu membimbing anak-anaknya tanpa harus mengikuti tren dan tanpa harus dimarahi. Aku benar- benar iri dengan keluarga ini, ingin rasanya menjadi bagian dari keluarganya, sungguh sangat beruntung jika dilahirkan dikeluarga seperti ini.
Bukit ligar permai its amazing place..
Love travelling, exploring, and also love this nature... terimasih tuhan atas nikmatmu yang sangat bermakna ini. Dan thanks juga buat sahabatku sarah yang udah mau ngajak buat jalan-jalan pokoknya semuanya deh, makasih banget..
Sampai jumpa di perjalanan selanjutnya,,,
See you       

No comments :

Post a Comment