Total Pageviews

Monday, 13 April 2015

Warisan Harta atau Ilmu?

Harta warisan kadang menjadi sebab dari ketidak rukunan sebuah keluarga. padahal zaman sekarang sudah modern dan tidak lagi selalu tergantung pada warisan. jika boleh memilih saya lebih baik mendapatkan warisan ilmu pengetahuan dari pada harta yang berlimpah, karena ilmu dapat memperkaya dan harta hanya dapat dihabiskan. walaupun itu semua tergantung pada individu yang menerimanya. kadang saya merasa dunia ini tidak adil karena kehidupan yang semakin canggih dan semakin kejam untuk orang-orang seperti saya, tetapi jika saya bersikap seperti ini terus saya tidak bisa terus melanjutkan kehidupan ini, mungkin saya sudah terbaring dan tertimbun tanah bersama para cacing dan hewan melata lainnya. singkat sekali dan sangat disayangkan jika saya melakukan hal seperti itu. disini saya hanya menuliskan apa yang ada dipikiran saya tentang harta warisan.
di keluarga betawi kalau suadah membicarakan warisan pasti beranggapan besar dan ada dimana-mana warisannya. biasanya warisan itu berupa kontrakan, sawah, dan tanah. luar biasa memang jika dibayangkan apalagi jika diuangkan entah ada berapa koper jumlah uangnya. didaerah tempat tinggal saya orang betawi saat ini sudah jarang dan hanya sebagian saja yang masih memiliki warisan dari orangtuanya.
   sebagian orang yang sudah menjual harta warisan sudah menjadi orang kaya dikampungnya tetapi hanya sesaat dan setelah itu mereka hanya memiliki rumah yang kecil dan seperti layaknya kontrakan yang berpetak -petak dan sempit. munggkin karena gaya hidup yang membuat mereka rela menghamburkan uangnya, apalagi jika ada istilah "gengsi" sampai kapan pun ga ada abisnya. di daerahku memang faktanya seperti itu dan saya termasuk orang yang diberi warisan oleh orangtua. mungkin menurut tetangga, teman dan orang disekitar saya itu hidup serba enakdan ga perlu kerja keras karena punya warisan tetapi faktanya saya benar-benar terbebani dengan warisan yang di berikan. orang tua memang sudah tiada dan saat ini hanya kakak saja yang masih menampung hidupku disini kadang ada saja kakak yang memberikan saran untuk membangun kontrakan dan ada pula yang menyuruh untuk  menjualnya. bagian saya memang tidak sebesar yang kakak saya dapatkan, mungkin karena anak bungsu jadinya bagian saya hanya sisa saja tapi entahlah.
rumah peninggalan orang tua memang terbilang besar, maklum rumah tua dan itu sudah menjadi bagian kakak laki-laki saya. dirumah tua ini hanya ada saya dan kakak kami hanya berdua sedangkan yang lainnya sudah memiliki rumah masing-masing karena sudah berkeluarga.
orang sekitar kadang ada yang mengusulkan untuk membuat kontrakan, dan saya tidak pernah merespon hal itu arena menurut saya rumah ini sangat bersejarah dan memiliki banyak kenangan didalamnya, apalagi ini tergolong rumah tua yang sangat bernilai artistik. saya sempat berkali-kali bilang pada kakak saya yang menempatinya, kalau rumah ini jangan sampai dibuat kontrakan atau apapun meskipun rumah ini dilihat tak layak huni karena kondisi saat ini sudah mulai terlihat keropos dimana-mana dan jika hujan tiba rumah ini selalu kebanjiran didalamnya. walaupun seperti itu saya tetap bersyukur seperti apapun keadaannya yang penting rumah ini masih bersedia menjadi payung disaat panas menghampiri.
entah sampai kapan keadaannya seperti ini yang jelas saya akan berusaha untuk merenovasi rumah dan memenfaatkan peninggalan yang ada dengan tidak menjualnya agar bisa lebih bermanfaat.

No comments :

Post a Comment